Sabtu, 06 Oktober 2007

Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas

Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas
SARIE FEBRIANE
Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian orangtua
bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana, mencerdaskan sesama
orangtua agar terhindar dari "kesesatan". Mereka berusaha menjadi orangtua
kritis yang tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk iklan.
Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan
dikendalikan konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat
seseorang merasa tak berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses cukup
untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai produk tersebut. Kalau sudah
begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang dipercaya
begitu saja.
"Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu, yang
dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami bergerilya," tutur
Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang mengampanyekan penggunaan obat
secara rasional (rational use of drug/RUD) kepada konsumen medis.
Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha
membina dan mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang diberi
nama Grup Sehat. Moto komunitas ini "be smarter be healthier". Upayanya,
yang telah tahunan dirintis, didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu
empat anak ini juga menjadi salah satu konsultan WHO.
Kini, pada mailing list sehat@yahoogroups.com telah tercatat 3.218
anggota dari penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. Para
orangtua dapat berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokter lain,
sampai dibimbing mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai situs
terpercaya.
Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke dokter
anak karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap kali sakit
Bagas selalu diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. Ketika itu dia
belum paham, antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan batuk pilek pada
anak-anak yang umumnya disebabkan virus.
Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit
itu disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan
sering memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru
antibiotik spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang
tergolong baik pun turut tergilas.
"Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua praktik
itu kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak sangat jarang,
dan anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home treatment saja. Banyak
minum air putih hangat, makan makanan yang disukainya, dan istirahat. Kalau
demam, saya kompres dia dengan air hangat atau minum obat penurun panas
saja. Enggak perlu antibiotik dan suplemen," tutur Pujiati.
Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya. Sang
suami malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran aneh. Orang
awam memang kerap mengira komunitas ini anti-obat, anti-antibiotik, bahkan
anti-dokter. Padahal sama sekali tidak. Koridor konsep RUD-lah yang menjadi
pegangan Grup Sehat.
"Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang-sayang).
Ketika kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah penyelamat
jiwa," ujar Wati yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua Peduli.
Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan bermacam
bakteri yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik (superbugs).
Sementara penemuan antibiotik baru tidaklah secepat perkembangan munculnya
bakteri baru. Semakin sering menggunakan antibiotik secara tak rasional,
malah menyebabkan anak sering jatuh sakit. Belum lagi risiko seperti
gangguan hati pada anak, seperti kerap ditemukan Wati, yang juga ahli
hepatologi anak ini.
Proses menyenangkan
Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif
menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah
makan. Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh menjejali
anak dengan obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula dengan memberi
anak berbagai suplemen penambah nafsu makan dan susu formula.
"Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan
lengkap juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu
proses belajar, eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian
orangtua sering mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan menu
agar disukai anak," kata Wati.
Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin sebagian
orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi hingga usia
enam bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI). Usia di atas satu
tahun, selain ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang
telah disterilisasi dengan teknik ultrahigh temperature (UHT) atau
pasteurisasi. Aneka susu yang menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk
perkembangan otak hanyalah klaim yang tidak berlandaskan prinsip ilmiah
evidence based medicine (EBM).
"Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan
ditertawakan tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya. Gizi
anak terutama dari makanan. Orangtua harus paham piramida makanan. Siapa
bilang anak harus gemuk, yang penting anak itu sehat," tutur Wati yang
prihatin dengan praktik pemasaran susu formula yang, menurut dia, semakin
tak etis.
Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu formula.
Susu berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah hati. Agen
pemasaran susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar anaknya diberi
susu formula supaya gemuk.
"Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan anak
kelak. Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. Mereka
bilang, kok anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya bekerja,"
ujar Yosi, ibu seorang anak yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta
Timur.
Tanpa tes alergi
Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang anak
alergi susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. Pujiati
pernah mengalami hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk kedelai yang
harganya relatif lebih mahal. Nyatanya, setelah tak lagi minum susu bubuk
kedelai pun, anaknya tak bermasalah.
Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat, lincah,
dan mudah buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak lagi
mengonsumsi suplemen vitamin dan penambah nafsu makan.
Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi.
Kesalahpahaman seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme
hingga pemberian imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO,
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Institute of Medicine
(IOM) telah menegaskan vaksinasi measles, mumps, rubella (MMR) tidak
berkorelasi dengan autisme. Bayi dan anak-anak pun dianjurkan divaksinasi
secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke dokter, mengurangi
risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat terbentengi
imunitasnya.
Belum lagi dokter yang "bereksperimen" dengan meresepkan obat yang tidak
perlu untuk mengurangi efek demam dari imunisasi.
"Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi DPT
(difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat penenang saraf.
Katanya, biar orangtua enggak repot," tutur Alia Indardi (34), ibu dari
tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi.
Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan
menebus obat itu. Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala yang
normal. Jika anaknya terganggu dengan demam tersebut, pemberian obat
penurun panas saja sudah mencukupi.
Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak direkomendasikan
lagi. "Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi yang cukup dan
berimbang, kan pasti sudah langsung menurut saja. Jadilah anak itu dikasih
obat penenang saraf," ujar Alia.
===============

Tidak ada komentar:

TERLAMBAT BICARA ATAU AUTISME ?

Terlambat Bicara atau Autisme ?

TERLAMBAT BICARA ATAU AUTISME ?

Pertanyaan ini aku lihat paling banyak ditanyakan oleh para Ibu yang mempunyai anak usia 1,5 tahun, 2 tahun, 2,5 tahun yang belum juga bicara. Kadang ada yang cerita belum banyak bicaranya, tetapi sudah mengerti jika diajak ngbrol. Ketakutan akan bergangguan autisme memang beralasan, karena publikasinya memang begitu mengatakan bahwa: hati-hati jika anak terlambat bicara, kemungkinan autisme.

Berapa banyak autisme? Banyak, begitu menurut publikasi. Berapa jelasnya? Engga tahu, karena angkanya samaunya. Ada yang bilang 1 : 500, ada yang 2: 250, eh ada juga yang bilang 1 : 150. Bayangkan dong kalau 1: 150, apa nanti gak bakal muncul partai kelompok autisme? Kok tinggi banget sih? Kalau tinggi begitu kenapa kok WHO engga membuat seruan serbu autisme, dan semua Negara membuat program pemberantasan ataupun pencegahan autisme. Ya engga, karena menurut banyak orang yang ngubek autisme, konon karena pertama yang salah:
1) tatalaksana sistem diagnosa autisme kurang ketat, seharusnya dilakukan secara multidisiplin, jangka waktu lama, berbulanan, hingga setahun, baru ditegakkan diagnosanya, tapi banyak hanya dengan satu kali kunjungan, tanpa konsultasi kiri kanan, bahkan ada yang cuma liwat mailing list segala, saat seorang Ibu bertanya mengapa anaknya belum bicara, langsung dapat diagnosa.
2) DSM IV atau ICD 10 yang menjadi dasar penegakan diagnosa jadi biang kerok.

Salah satu artikel yang secara terus terang mengkritik kriteria itu ditulis oleh Tine van Schijndel-Jehoel seorang orthopedagog peserta program doktor neuropsikologi klinik dari Universitas Tilburg – Belanda. Artikel itu adalah bagian dari pendidikan doktornya, yang ditampilkan di sebuah majalah autisme ilmiah Wetenschapplijk Tijdschrift Autisme, edisi Agustus 2005, dengan judul artikel: Brein bedriegt: als een autisme spectrum stoornis geen autisme is (Otak yang menipu: jika autisme spectrum disorder ternyata bukan autisme). Ia menjelaskan bahwa:
1) DSM IV adalah kelanjutan dari DSM III, dan ICD 10 adalah kelanjutan dari ICD 9;
2) dalam kriteria itu baik DSM IV maupun ICD 10, yang diambil dari DSM III & ICD 9, adalah prototip sistem klasifikasi bahwa: seorang anak dapat didiagnosa berdasarkan kumpulan gejala tertentu, tanpa harus memenuhi seluruh kriteria yang ada;
3) kumpulan gejala itu tak ada penjelasan latar belakang penyebab dan mengapa gejala itu bisa terjadi;
4) kriteria itu tidak pernah melalui upaya-upaya berbagai penelitian guna mendukung akurasi kriteria;
5) ketiga faktor yang menjadi dasar diagnosa (gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku repetitif dan stereotipik) tidak diberi definisi secara jelas.


Akibat dari kriteria yang digunakan itulah yang pada akhirnya menjadi penyebab banyaknya anak-anak dengan bermacam-macam pola gejala mendapatkan diagnosa yang sama, yaitu autisme, yang dengan catatan sebetulnya sangat beragam (heterogen). Dengan alasan heterogenitas dan kesulitan menentukan letak setiap anak yang menerima diagnosa itu dalam sebuah spektrum yang panjang, akhirnya digunakanlah istilah Autism Spectrum Disorder (ASD). Menurut Shijndel-Jehoel lagi bahwa para ilmuwan saat melakukan penelitian seringkali juga menjadikan Autism Spectrum Disorder (ASD) sebagai satu objek grup penelitian yang dianggap homogen. Artinya semua ini menurutnya bahwa perkembangan kognitif neuropsikologi anak didiagnosa melalui kumpulan gejala tanpa memperhatikan lagi perbedaan etiologi (penyebab) dari setiap kelompok dalam spektrum tersebut. Dalam menangkap tanda-tanda gangguan autisme ini, gejala perilakulah yang menjadi sasaran, maka berbagai gejala perilaku akan terjebak masuk ke dalam term perilaku menyimpang, tanpa memperhatikan lagi apakah seorang anak mempunyai performa atau kinerja yang baik, mempunyai potensi, mempunyai prinsip yang kuat, dan dapat menunjukkan perilaku sosial yang adaptif, yang ke semuanya itu bisa saja nampak dalam situasi di rumah.

Ada satu tulisan dari seorang psikiater yang juga neurolog anak yang aktif dalam masalah gangguan perkembangan bahasa dan bicara di Belanda, ia selain bekerja di rumah sakit Vrij Universiteit Amsterdam, juga di institusi anak-anak yang mengalami gangguan bahasa dan bicara terutama yang mengalami dysphasia, ia adalah Dr. Charles Njiokiktjien. Dalam sebuah artikelnya di majalah ilmiah autisme Belanda, Wetenschapplijk Tijdschrift Autisme, no 2, edisi Agustus 2005, berjudul De relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme (Hubungan antara gangguan perkembangan bahasa dan autisme), menjelaskan bahwa masalah perilaku autisme yang disertai gangguan berbahasa, seharusnyalah dibedakan dengan masalah perilaku anak yang disertai gangguan berbahasa tetapi bukan autisme. Maksudnya harus pula ditegakkan adanya differential diagnosis ( diagnosa pembanding) antara gangguan perkembangan autisme, dengan anak tanpa autisme yang sama-sama mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara. Namun untuk membedakan ini, kesulitannya adalah dalam berbagai literatur autisme, perbedaan gangguan perkembangan berbahasa itu tidak dibahas terutama yang menyangkut definisi dan bagaimana perbedaannya, dengan cara menggunakan patokan berdasarkan gejala-gejala yang ada.

Dalam artikel itu Njiokiktjien menjelaskan tentang bagaimana perbedaan gangguan perkembangan bicara anak autisme dan non autisme, berdasarkan gejala-gejala berbahasa dan bicara yang ditampilkannya. Ia menjelaskan tentang dua kelompok anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara. Salah satu kelompok disebut sebagai anak yang mengalami dysphasia. Pada anak-anak dysphasia ini terjadi gangguan adanya perbedaan kemampuan dalam bentuk kemampuan reseptif (penerimaan) dan ekspresif (penyampaian) bicara, dimana pada dysphasia kemampuan reseptif lebih baik daripada kemampuan ekspresifnya. Dan dari tes IQ terdapat perbedaan atau deskrepansi antara IQ verbal dan IQ performal dimana IQ performal lebih tinggi daripada IQ verbal. Anak-anak dysphasia ini dikelompokkan sebagai anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara (developmental language disorder). Anak-anak ini juga mengalami gangguan kelancaran bicara karena mengalami gangguan pada pemanggilan kembali kata-kata dari daftar memorinya (words recall), gangguan penggunaan gramatika (syntax), dan gangguan ekspresi terhadap komando atau perintah (misalnya menjawab pertanyaan terbuka, atau menerima perintah), serta gangguan bicara spontan. Artikulasinya juga jelek. Sekalipun anak-anak ini bukan anak autisme, namun ia juga mengalami gangguan sosial, dan menarik diri (introvert). Anak-anak inilah yang kelak akan berkembang baik (mempunyai prognosis baik) dan kelak pada akhirnya ia akan tidak mempunyai gejala dysphasia lagi saat kemampuan ekspresifnya sudah membaik. Menurut Njiokiktjien lagi, bahwa keadaan yang seperti ini kelaknya tidak pernah diikuti dengan gangguan perkembangan autisme.

Sedang kelompok lain, adalah kelompok anak-anak yang mempunyai gangguan dimana dalam tes kemampuan berbahasa, ia tidak mempunyai deskrepansi atau perbedaan skor antara kemampuan reseptif dan ekspresif, bahkan bisa terjadi kemampuan reseptifnya berada di bawah kemampuan rata-rata anak seusianya. Anak-anak ini juga mempunyai kesulitan dalam berbahasa non-verbal (bahasa simbolik dan bahasa mimik). Keadaan seperti inilah yang selalu menyertai anak-anak autisme, atau anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental. Anak-anak ini secara primer mengalami gangguan pengertian bahasa yang akhirnya juga akan mengalami gangguan penggunaan bahasa, karena itu dinamakan juga sematic-fragmatic language syndrome. Sedang pada anak-anak mental retarded atau keterbelakangan mental, sekalipun mengalami gangguan reseptif dan ekspresif, ia masih mempunyai emosi yang baik. Berbeda dengan anak autisme yang mengalami gangguan perkembangan emosi. Emosi disini maksudnya bukan dalam bentuk emosional tidak terkendali seperti mengamuk, tetapi ia tidak mampu membangun hubungan kehangatan emosi timbal balik.

Di bawah ini kucuplik pembagian gangguan berbicara dan bahasa pada anak-anak yang kuambil dari artikel yang ditulis oleh Njiokiktjien. Sebetulnya Njiokiktjien sendiri mengambil pembagian itu dari pembagian yang dibuat oleh Rapin (1988) yang terkenal membicarakan masalah komunikasi pada penyandang autisme.


Klasifikasi communication and language disorder pada anak

A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1. Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas - gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.

B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1. Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2. Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3. Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4. Gangguan sensorik pendengaran yang parah.

C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.

D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2

Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).
Sumber: C.Njiokiktjen (psikiater & neurolog anak) dalam artikel: De Relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme, Wettenschaplijk Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005.


Dalam berbagai artikel mengenai autisme, banyak dijelaskan bahwa gangguan berbahasa dan bicara pada autisme mempunyai gradasi dari yang terparah, tidak bisa bicara, hingga yang bisa berbicara dengan baik. Hal ini juga tergantung dari perkembangan kognitif si penyandang. Mulai dari yang inteligensia rendah hingga yang tinggi. Pada autism spectrum disorder, Njiokiktjien menjelaskan bahwa baik kelompok autisme infantil yang berinteligensia rendah hingga yang mempunyai fungsi yang tinggi (high function autism atau HFA), semua mengalami gangguan reseptif sekaligus juga ekspresif. Saat mereka masih balita ditemukan kondisi yang dysfatis (tidak bicara) dan keterlambatan bicara. Namun kelompok lain, yaitu kelompok autisme Asperger, tidak mengalami keterlambatan bicara, jadwal perkembangan bicara normal. Walau begitu ia mengalami gangguan berbahasa, yaitu gangguan semantik dan pragmatik. Karena itu kelompok asperger ini mengalami apa yang disebut gangguan komunikasi sosial.